Surabaya (21/08/2026) - Langkah kaki itu dimulai bukan sekadar untuk mencapai ketinggian 3.339 meter di atas permukaan laut (mdpl). Bagi Kepala Perhutani Divisi Regional (Kadivre) Jawa Timur (Jatim), Dewanto, pendakian Gunung Arjuno dalam Ekspedisi 81 menjadi perjalanan untuk membawa pesan tentang pentingnya merawat hutan, mencegah kebakaran, dan menjaga kehidupan.
Ekspedisi 81 Gunung Arjuno bertema “Merawat Hutan, Mencegah Kebakaran, Menjaga Kehidupan, Menguatkan Indonesia” tersebut dilepas Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dari halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan kemudian berlangsung pada 16–17 Agustus 2026 melalui jalur pendakian Arjuno-Welirang via Sumberbrantas, Kota Batu.
Perhutani mengirimkan 11 orang untuk mengikuti ekspedisi tersebut. Mereka terdiri atas jajaran Perhutani, di antaranya Kepala Perlindungan Sumber Daya Hutan (SDH) Joko Santoso, Administratur Perhutani KPH Parengan, Anthonie Alfrits Tandayu beserta jajaran, serta personel lainnya.
Bagi Dewanto, perjalanan menuju puncak bukan hanya persoalan menaklukkan medan. Jalur yang ditempuh menjadi ruang untuk menghayati secara langsung bagaimana pentingnya menjaga kawasan hutan dan lingkungan. Setiap langkah menuju ketinggian membawa misi yang lebih besar: memastikan hutan tetap menjadi penyangga kehidupan bagi masyarakat dan generasi mendatang.
Rangkaian ekspedisi dimulai Minggu (16/8/2026) pagi. Setelah persiapan, registrasi, dan apel pemberangkatan di Obyek Wisata Alam (OWA) Cangar, rombongan bergerak menuju Brak Seng.
Perjalanan dilanjutkan menuju lokasi penanaman. Sekitar pukul 09.30 WIB, peserta melaksanakan penanaman simbolis di Pos 1 jalur pendakian Gunung Arjuno melalui Sumberbrantas. Penanaman tersebut menjadi penegasan bahwa ekspedisi tidak berhenti pada aktivitas pendakian, tetapi juga membawa misi konservasi.
Dari lokasi penanaman, perjalanan berlanjut menuju Camp Lengkehan. Medan yang harus dilalui menuntut ketahanan fisik dan kekompakan seluruh peserta. Setelah bermalam dan memulihkan tenaga, perjalanan kembali dilanjutkan pada Senin (17/8/2026) dini hari.
Sekitar pukul 03.30 WIB, rombongan bersiap dan bergerak menuju Pasar Dieng. Setelah tiba sekitar pukul 09.00 WIB, peserta mempersiapkan rangkaian upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di tengah suasana pegunungan dan udara yang dingin, Merah Putih dikibarkan. Upacara tersebut menjadi salah satu bagian penting Ekspedisi 81 Gunung Arjuno.
Upacara dipimpin oleh Brigadir Jenderal TNI Singgih Pambudi Arianto, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Kelompok Staf Ahli (Kapoksahli) Pangdam V/Brawijaya. Sementara Kepala Perhutani Divre Jatim, Dewanto bertindak sebagai pembaca teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Usai upacara Dewanto, menyampaikan, bahwa Ekspedisi 81 Gunung Arjuno menjadi momentum untuk mengajak seluruh peserta dan masyarakat memperkuat komitmen menjaga kelestarian hutan.
“Kami dari Perhutani mendorong seluruh peserta ekspedisi yang mengikuti upacara di Gunung Arjuno, termasuk seluruh elemen yang terlibat, untuk terus berupaya melestarikan hutan. Puncak Gunung Arjuno di ketinggian 3.339 mdpl memang memiliki keindahan yang luar biasa. Namun, akan lebih indah jika sepanjang perjalanan menuju puncak kita tetap berada di bawah naungan pohon-pohon yang tumbuh lestari, ” ujar Dewanto.
Menurutnya, keberadaan hutan tidak hanya memperindah kawasan pegunungan, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan menopang kehidupan. Karena itu, semangat mencapai puncak harus diiringi dengan kesadaran untuk menjaga hutan mulai dari sepanjang jalur hingga kawasan puncak.
setelah upacara, perjalanan belum selesai, peserta membentuk formasi 81 sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak Arjuno. Rombongan membawa dan membentangkan Bendera Merah Putih sepanjang 81 meter sebagai simbol peringatan 81 tahun Kemerdekaan Indonesia.
Sekitar pukul 11.30 WIB, peserta tiba di kawasan puncak Arjuno yang dikenal sebagai Puncak Ogal Agil bendera Merah Putih kembali dikibarkan, dan pemandangan pegunungan menjadi latar dari sebuah pesan kebangsaan: kemerdekaan harus dimaknai dengan menjaga alam yang menjadi sumber kehidupan.
Bagi Dewanto, keterlibatan Perhutani dalam ekspedisi tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam mengawal kelestarian hutan.
“Ekspedisi ini bukan sekadar perjalanan menuju puncak. Ada pesan yang ingin kita bawa bahwa hutan harus dirawat, kebakaran harus dicegah, dan keberadaan hutan harus memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat, ” ujar Dewanto.
Menurutnya, momentum peringatan kemerdekaan di kawasan Gunung Arjuno menjadi pengingat bahwa menjaga hutan merupakan bagian dari menjaga masa depan Indonesia. Karena itu, keterlibatan Perhutani tidak hanya diwujudkan melalui kehadiran dalam upacara, tetapi juga melalui aksi nyata di lapangan.
Setelah rangkaian kegiatan di puncak selesai, rombongan kembali menuju Camp Lengkehan. Perjalanan dilanjutkan dengan aksi bersih-bersih sampah yang ditemukan di sepanjang jalur pendakian menuju OWA Cangar.
Kegiatan tersebut menegaskan bahwa ekspedisi tidak berakhir ketika peserta mencapai puncak. Justru, perjalanan pulang menjadi bagian dari pesan konservasi yang dibawa sejak awal.
Membersihkan sampah, merawat pohon, menjaga jalur pendakian, serta meningkatkan kepedulian terhadap potensi kebakaran merupakan tindakan sederhana yang memiliki arti penting bagi kelestarian kawasan.
Bagi Perhutani, semangat tersebut sejalan dengan tugas menjaga hutan agar tetap lestari dan memberikan manfaat ekologis, sosial, serta ekonomi.
Ekspedisi 81 Gunung Arjuno akhirnya bukan sekadar catatan perjalanan menuju ketinggian 3.339 mdpl. Di balik perjuangan Dewanto bersama jajaran Perhutani menapaki jalur pegunungan, terselip pesan bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan mengibarkan Merah Putih, tetapi juga dengan menjaga tanah, hutan, dan kehidupan yang ada di dalamnya.@Red.

Octavia Ramadhani